Ekonomi Nasional Sulit Keluar Dari Jebakan Middle Income Trap?

More articles

Tak bisa dipungkiri bahwa seperti apapun optimisme pemerintah berkuasa terhadap perekonomian nasional. Namun realitanya perekonomian Indonesia rentan terhadap faktor eksternal maupun internal.

Dari sisi eksternal misalnya, permasalahan menyangkut perang dagang, pelonggaran kebijakan ekonomi AS, isu brexit di Uni Eropa hingga fluktuasi harga komoditas dunia dan kebijakan proteksionisme perdagangan menjadi penyebab dimana pertumbuhan ekonomi global bakal melambat dan akan berpengaruh terhadap perekonomian domestik di Indonesia.

Ekonom The Indonesian Institute Muhammad Rifki Fadilah mengungkapkan kondisi tidak menguntungkan tersebut tak pelak membuat beberapa lembaga internasional sontak mengkoreksi pertumbuhan ekonomi dunia.

“Sudah banyak lembaga yang mengoreksi pertumbuhan ekonomi dunia, mulai dari IMF, World Bank dan juga lembaga lainnya. memang hampir semua memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia karena perlambatan perdagangan dunia,”katanya di Jakarta, Selasa (2/7/2019).

Sementara itu, jika merujuk pada rentannya perekonomian nasional terhadap makin melebarnya defisit transaksi berjalan, tingginya impor, peningkatan daya saing, masalah skill tenaga kerja yang belum merata hingga roadmap revolusi industri 4.0 bakal menghambat dan membuat rentan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Saya melihat trennya masih sama, karena saya memprediksikan growth Indonesia hanya dikisaran 5,2-5,6 persen hingga 5 tahun ke depan karena kondisi global yang masih rentan,”imbuhnya.

Suara berbeda diungkap oleh Ekonom Indonesia for Glbal Justice (IGJ), Hafidz Afandi yang menyatakan bahwa dampak dari melambatnya perekonomian nasional jika tidak segera dibuatkan ramuan dalam membuat terobosan kebijakan akan menjadi masalah serius. Dimana perekonomian yang rentan ini bisa berdampak pada sulitnya bangsa Indonesia keluar dari jebakan middle income trap.

“Jika pertumbuhan kita turun artinya ada masalah dalam struktur perekonomian kita. Batas 5 persen sudah sangat rendah bagi negara big population seperti Indonesia yang masih berada di antara negara berkembang. Bahkan untuk keluar dari middle income trap di 2030an kita harus tumbuh minimal 7 persen,”pungkasnya.

Sumber: Akurat.co

The Indonesian Institute
The Indonesian Institutehttp://www.theindonesianinstitute.com
The Indonesian Institute (TII) adalah lembaga penelitian kebijakan publik (Center for Public Policy Research) yang resmi didirikan sejak 21 Oktober 2004 oleh sekelompok aktivis dan intelektual muda yang dinamis. TII merupakan lembaga yang independen, nonpartisan, dan nirlaba yang sumber dana utamanya berasal dari hibah dan sumbangan dari yayasan-yayasan, perusahaan-perusahaan, dan perorangan. TII bertujuan untuk menjadi pusat penelitian utama di Indonesia untuk masalah-masalah kebijakan publik dan berkomitmen untuk memberikan sumbangan kepada debat-debat kebijakan publik dan memperbaiki kualitas pembuatan dan hasil-hasil kebijakan publik dalam situasi demokrasi baru di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest article