Pemilih Milenial Dinilai Ingin Capres Benahi Lapangan Pekerjaan

More articles

Peneliti The Indonesian Institute (TII) Fadel Basrianto menilai pemilih milenial menginginkan para capres membenahi lapangan pekerjaan. Capres terpilih juga diminta membehani isu lainnya seperti kemiskinan dan harga kebutuhan pokok.

“Ekspektasi milenial di tahun 2019 pascapemilu siapapun yang terpilih itu dituntut memperbaiki kemiskinan, harga kebutuhan pokok dan perluasan lapangan pekerjaan. Ini survei dilakukan di 2017, 2018 dan 2019 yang mengatakan 3 hal itu yang menjadi concern milenial. Saya harap itu jadi ekspektasi milenial bahwa pemerintah nanti yang terpilih,” kata Fadel di diskusi Ekspektasi Milenial Pasca Pemilu 2019, di kantornya, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).

“Yang perlu diwaspadai oleh kedua belah kandidat adalah golputnya milenial. Mereka suaranya besar, karakternya dia itu yang asik-asik sehingga kalau dengan politik yang menyebar hoax, SARA membuat mereka menjauh dari politik. Nah ini yang kontra produktif dengan apa yang dilakukan kedua calon,” kata Fadel. Fadel mengatakan milenial memiliki karakteristik yang khusus, suka senang-senang dan percaya diri. Dia mengimbau kedua kubu capres tidak saling menyebarkan hoax karena dikhawatirkan akan mengurangi minat milenial akan politik dan berdampak menjadi golput.

Dia menyarankan agar kedua paslon memaparkan program yang lebih konkret. Misalnya, isu lapangan pekerjaan semestinya dijabarkan dengan lebih detail seperti apa bentuk dan iklim pekerjaannya.

“Iklim pekerjaan yang akan dibangun sehingga antara pengusaha dan pekerja milenial kepercayaan bisa terbangun di sana. Kalau itu tidak segera dalam waktu 67 atau 64 hari ini saya kira absensi dari milenial akan sangat besar di Pemilu 2019,” ungkap Fadel.

Fadel menilai tampilnya juru bicara dari kaum milenial tak lagi berpengaruh. Sebab yang diinginkan pemilih milenial adalah program yang lebih konkret.

“Lagi-lagi sebuah generasi milenial tidak hanya sekedar umur tapi ekspektasi, kondisi sosial, poltik yang diinginkan juga harus dipertimbangkan. Kalau jurkam anak muda awalnya cukup membantu menarik milenial tapi lama lama jengah juga, perlu ada program yang lebih konkret,” sambungnya.

Fadel menyebut kaum milenial banyak menginginkan lapangan pekerjaan sebagai PNS hingga start up. Tetapi, pemerataan lapangan di daerah juga dibutuhkan.

Sumber: Detiknews.
 

The Indonesian Institute
The Indonesian Institutehttp://www.theindonesianinstitute.com
The Indonesian Institute (TII) adalah lembaga penelitian kebijakan publik (Center for Public Policy Research) yang resmi didirikan sejak 21 Oktober 2004 oleh sekelompok aktivis dan intelektual muda yang dinamis. TII merupakan lembaga yang independen, nonpartisan, dan nirlaba yang sumber dana utamanya berasal dari hibah dan sumbangan dari yayasan-yayasan, perusahaan-perusahaan, dan perorangan. TII bertujuan untuk menjadi pusat penelitian utama di Indonesia untuk masalah-masalah kebijakan publik dan berkomitmen untuk memberikan sumbangan kepada debat-debat kebijakan publik dan memperbaiki kualitas pembuatan dan hasil-hasil kebijakan publik dalam situasi demokrasi baru di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest article